dunia arsitektur hijau

by Indahwati_setiawan


Leave a comment

GERAKAN SEDERHANA MENCEGAH BANJIR

Masalah banjir bukanlah lagi masalah yang dapat disepelekan. Banyak orang yang menjadi kehilangan harta bendanya karena  banjir. Banjir itu disebabkan karena tanah yang tidak dapat merespkan air hujan dengan baik. oleh sebab itu diperlukan upaya untuk membuat daerah resapan tanah. Salah satu kegiatan membuat resapan tanah yang populer adalah membuat biopori. Biopori adalah lubang resapan yang penting untuk keseimbangan alam, terutama di perkotaan. Biopori mempunyai fungsi untuk menjaga kondisi tanah dan air tanah di wilayah perkotaan. Biopori ibarat pori-pori kota yang bisa meningkatkan resapan air hujan. Lubang ini juga berfungsi mengalirkan air sehingga mampu menjadi cadangan air bagi air bawah tanah. Dengan begitu, biopori bisa mencegah banjir dan kekeringan.

gambar: Lubang Biopori

sumber: http://intisari-online.com//media/images/5123_mencegah_banjir_dan_kekeringan_dengan_biopori_.jpg

Sudah banyak gerakan biopori di beberapa tempat . seperti halnya yang dilakukan di Kota Lewoleba. Di Kota Lewoleba digerakan seribu biopori. Sudah saatnya Lewoleba memiliki lubang-lubang biopori, karena dalam setiap musim hujan, banjir begitu mudah menerjang rumah-rumah penduduk di Lewoleba. Bahkan banjir itu semakin besar dari tahun ke tahun.

terendam-banjir2

gambar: Kota Lewoleba yang terendam banjir

sumber: http://kupang.tribunnews.com/2015/06/10/bangun-seribu-biopori-untuk-cegah-banjir-di-lewoleba

Di Bandung juga, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil meluncurkan gerakan sejuta biopori di parkiran utara Tegalega, Jalan Otto Iskandardinata, Bandung, Jawa Barat, menurut beliau , kegiatan gerakan seribu biopori merupakan tanggapan yang murah dan tepat untuk menanggapi masalah banjir.

gambar: Ridwan Khamil luncurkan seribu biopori

sumber: http://regional.kompas.com/read/2013/12/20/1214497/Ridwan.Kamil.Luncurkan.Gerakan.Sejuta.Biopori

Daftar Pustaka:

Karyono, Tri Harsono. 2010. Green Architecture Pengantar Pemahaman Arsitektur Hijau di Indonesia. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.

Mediastika, Christina E. 2013. Hemat Energi & Lestari Lingkungan melalui Bangunan. Yogjakarta: Andi Yogjakarta

http://kupang.tribunnews.com/2015/06/10/bangun-seribu-biopori-untuk-cegah-banjir-di-lewoleba

http://regional.kompas.com/read/2013/12/20/1214497/Ridwan.Kamil.Luncurkan.Gerakan.Sejuta.Biopori

http://intisari-online.com/read/cegah-banjir-dan-kekeringan-dengan-biopori-

Indahwati. Setiawan

21213001

Arsitektur Universitas Widya Kartika


Leave a comment

MENGGUNAKAN MATERIAL BEKAS, MENDUKUNG GREEN ARCHITECTURE

Salah satu tindakan yang dapat membantu penghematan energi dan menjaga kelestarian alam adalah penggunaan barang bekas yang didaur ulang, sebab dengan menggunakan material daur ulang dapat memenuhi aspek hemat dan lestari. Namun banyak banyak material bekas yang di sekitar kita yang dapat dimanfaatkan, karena tidak semua material bekas itu tergolong sampah. Penggunaan material berkas untuk konstruksi bangunan dan pengolahan lahan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:

  1. material bekas bangunan atau sisa-sisa metrial bangunan untuk material bangunan.
  2. material bekas selain dari bangunan untuk material bangunan.

(Hemat Energi & Lestari Lingkungan Melalui Bangunan, 121)

Untuk jenis yang pertama dapat dicontohkan dengan penggunaan kembali kayu-kayu bekas, besi bekas, genteng bekas atau sisa-sisa pecahan lantai. Biasanya para pekerja konstruksi menggunakannya kembali untuk material bkas tersebut untuk memperbaiki rumahnya. Namun tak banyak rumah yang dikerjakan dengan material bekas dapat menghasilkan bangunan yang estetis. Sebagai contoh: bengkel kerja ‘REMPAH’ di solo. Bengkel ini milik pak Paul. Rumah Karya, REMPAH mengandung arti REMUKAN SAMPAH. Rumah Karya itu memang 90 % berasal dari material sampah di gudangnya. Banyak batang baja dengan berbagai dimensi panjang dimanfaatkan untuk rangka utama sebuah bangunan tanpa harus mengubahnya, tanpa harus memotongnya. Artinya material yang ada membentuk dalam sentuhan kreatifitas yang harmoni. Potongan-potongan kayu ia tempelkan apa adanya hingga membentuk dinding yang artistik. Sementara lantai di bagian atas ia gelar anyaman bambu dan  styrofoam atau polystyrene dengan finishing plester semen, sebuah langkah berani namun dengan perhitungan cermat, perbedaan karakter itu bisa menyatu dengan kokoh bahkan kuat menampung beban 10 sak semen.

555df0020423bd99278b4567

gambar: bengkel kerja ‘rempah’ di Solo

sumber: http://www.kompasiana.com/290465tantepaku/dari-sampah-berubah-jadi-rempah-rumah-karya_5500ffb1813311971ffa80cf

Sementara jenis yang kedua adalah pemanfaatan material non bangunan untuk konstruksi bangunan, seperti botol, kaleng, dan lain-lain. Sebagai contohnya: rumah tinggal Ridwal kamil . menggunakan botol pada dinding rumahnya. Sama halnya dengan Kuil Wat Lan, kuil ini juga menggunakan botol sebagai dinding.

Rumah-Botol-Ridwan-Kamil-2

gambar: dinding dengan material botol bekas

sumber: http://rooang.com/2014/06/sampah-material-alternatif-untuk-dinding/

dunedin_man_peter_lewis_shows_off_the_bricks_of_re_4c69251478

gambar: berbagai macam material plastik yang di jadikan blok dinding

sumber: http://rooang.com/2014/06/sampah-material-alternatif-untuk-dinding/

Peter Lewis, seorang warga Selandia Baru, berhasil menciptakan sebuah mesin, yang diberi nama mesin byfusion. Mesin ini mampu mengolah berbagai sampah plastik menjadi bongkahan bata. Dalam waktu 30—45 detik 10 kg sampah plastik bisa diubah menjadi satu buah bata yang sangat keras seperti batu.

gambar : bangunan dari kontainer pertama di Indonesia terletak di Batu, Malang.

sumber: https://zainuri.files.wordpress.com/2013/07/2030077-perpustakaan-dari-kontainer-bekas-620×310.jpg

Dan ada lagi yang menarik perhatian adalah penggunaan container truk yang tidak terpakai sebagai konstruksi bangunan yang praktis, langsung jadi dan ramah lingkungan.

Ada banyak cara untuk memiliki rumah yang ramah lingkungan. Bahan-bahan material rumah di atas terbukti lebih ekonomis dan tidak merusak alam. Kita juga bisa berkreasi dengan memanfaatkan barang-barang bekas di sekitar. Seandainya  banyak masyarakat yang menggunakan material daur ulang maka kita dapat menghemat energi dan sekaligus menjaga kelestarian alam. Serta membuat gerakan masyarakat untuk menunjang Green Architecture.

Daftar Pustaka:

Karyono, Tri Harsono. 2010. Green Architecture Pengantar Pemahaman Arsitektur Hijau di Indonesia. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.

Mediastika, Christina E. 2013. Hemat Energi & Lestari Lingkungan melalui Bangunan. Yogjakarta: Andi Yogjakarta

http://rooang.com/2014/06/sampah-material-alternatif-untuk-dinding/

http://www.kompasiana.com/290465tantepaku/dari-sampah-berubah-jadi-rempah-rumah-karya_5500ffb1813311971ffa80cf

https://abaslessy.wordpress.com/2012/01/15/287/

https://sudiana1526.wordpress.com/2013/10/22/material-bahan-bangunan-ramah-lingkungan/

Indahwati. Setiawan

21213001

Arsitektur Universitas Widya Kartika

Link Post : https://www.edmodo.com/home#/group?id=16756901


Leave a comment

GREEN ARCHITECTURE MEMBAWA INDONESIA LEBIH BAIK

Di seluruh dunia sekarang sedang sibuk melakukan kegiatan “Go Green”. Dalam bahasa inggrisnya ‘go’adalah menuju dan ‘green’ adalah hijau, maka “go green”(Kamus Bahasa Inggris – Indonesia) berarti mengajak kita untuk menuju “hijau”. Sementara di dunia arsitektur biasa disebut dengan “Green Architecture” atau Arsitektur Hijau. Arsitektur hijau merupakan konsep bangunan berwawasan lingkungan. Secara sederhana dapat dipahami sebagai bangunan atau lingkungan binaan yang dapat mengurangi atau dapat melakukan efisiensi sumber daya material, air dan energi. Sementara dalam pengertian yang lebih luas, adalah bangunan atau lingkungan binaan yang efisien dalam penggunaan energi, air dan segala sumber daya yang ada, kemudian mampu menjaga keselamatan, keamanan dan kesehatan penghuninya dalam mengembangkan produktivitas penghuninya, serta mampu mengurangi sampah, polusi dan kerusakan lingkungan. (Green Architecture, 97)

Arsitektur hijau tidak dapat lepas dari sifat sustainable (berkelajutan), earthfriendly (ramah lingkungan), dan high performance building (bangunan dengan performa sangat baik). Sifat yang pasti dan harus ada pada bangunan green building adalah high performa building. Banyak bangunan di Indonesia yang telah berkonsep green building, dengan meminimaliskan penggunaan energy dengan memanfaatkan energi yang berasal dari alamdan di banu dengan teknologi yang tinggi. Sebagai contoh nyatanya adalah Gedung Kementerian PU. Gedung ini bersifat green building, hijau ramah lingkungan. Prinsip gedung ini adalah mengefisien operasi keseluruhan gedung. Dengan prinsip tersebut gedung PU ini dapat menghemat pemakainan listrik hinggak 44% dan penghematan air sebesar 81%. Hal tersebut terjadi karena pencahayaan yang diatur sedemikian rupa , kalau tidak ada gerakan itu otomatis mati. Sementara pengolahan airnya , air hujan ditampung, dimanfaatkan kembali untuk menyirami pohon, dan air dari kamar mandi di lakukan water threatment ada proses recycle.

Gambar: Gedung Kementerian Umum

Sumber: http://cdn-cms.pgimgs.com/news/2014/10/gedung-PU.jpg

Tidak hanya gedung PU saja yang bisa termasuk green building. Rumah tinggal tropis juga bisa dikatakan green. Dimana letak greennya? Rumah ala tropis dengan banyak bukaan, dibentuk untuk mengurangi pemakaian AC juga penerangan adalah prinsip arsitektur hijau di daerah tropis. Namun, hal tersebut tidak akan berjalan mulus jika sekeliling rumah tidak asri. Bukaan banyak hanya akan memasukkan udara panas dan membuat pemiliknya tetap memasang pendingin ruangan. Oleh sebab itu pekarangan perlu dihijaukan dengan tanaman apa saja, permukaan tanah tidak ditutup dengan beton dan menerapkan manajemen sampah yang ketat.

Di Indonesia, banyak bangunan-bangunan seperti rumah tinggal atau bangunan komersial lainnya yang mulai menyelaraskan konsep desainnya dengan green architecture. Saat ini konsep green architecture telah diwujudkan secara nyata pada beberapa hunian vertical atau apartemen di kota-kota besar di Indonesia. Konsep green apartment dalam beberapa tahun belakangan memang terus dikembangkan oleh pengembang properti. Konsep ini diaplikasikan melalui keberadaan taman-taman di beberapa balkon yang bisa digunakan penghuni apartemen untuk bersantai dan menikmati hijau dedaunan di tengah kota. Arsitektur hijau tentunya lebih dari sekedar menanam rumput atau menambah tanaman lebih banyak di sebuah bangunan, tapi juga lebih luas dari itu, misalnya memberdayakan arsitektur atau bangunan agar lebih bermanfaat bagi lingkungan, menciptakan ruang-ruang publik baru, menciptakan alat pemberdayaan masyarakat, dan sebagainya. Maka dari itu sangat beralasan jika program green architecture ini dapat diterapkan di masyarakat luas, karena dengan menerapkan konsep ini keuntungannya dari sisi ekonomi sangat nyata dan terukur. Selain itu penerapan konsep ini pun sejalan dengan pengurangan emisi karbon.

Daftar Pustaka:

Karyono, Tri Harsono. 2010. Green Architecture Pengantar Pemahaman Arsitektur Hijau di Indonesia. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.

Mediastika, Christina E. 2013. Hemat Energi & Lestari Lingkungan melalui Bangunan. Yogjakarta: Andi Yogjakarta

http://gospoth.blogspot.co.id/2013/03/green-architecture.html?m=1

http://probohindarto.wordpress.com/2008/11/10/konsep-green-architecture-arsitektur-hijau-oleh-budi-pradono/

http://finance.detik.com/read/2013/08/20/142554/2335204/1016/kementerian-pu-klaim-gedung-hijau-hemat-listrik-44-dan-air-81

http://bebasopan.blogspot.co.id/2011/10/green-architecture-for-today-and-future.html?m=1

Indahwati. Setiawan

21213001

Arsitektur Universitas Widya Kartika

Link Post : https://duniarsitekturhijau.wordpress.com/2015/10/15/mengenal-green-architecture-menghemat-penggunaan-energi/